“DBD Melejit Secara Nasional, Tangsel Masuk Radar—Saatnya Gerak Cepat!"
Demam Berdarah Dengue (DBD) tetap menjadi ancaman kesehatan di Indonesia, terutama di wilayah tropis seperti Tangerang Selatan yang mengalami peningkatan kasus akibat mobilitas penduduk, perubahan iklim, serta lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes. Lonjakan kasus nasional dan tingginya angka kejadian di Tangsel menunjukkan perlunya kewaspadaan dan tindakan pencegahan yang lebih optimal. Faktor suhu, kelembapan, dan curah hujan berperan besar dalam meningkatkan risiko penularan. Gejala DBD dapat berupa demam tinggi, nyeri tubuh, mual, hingga perdarahan ringan. Untuk menekan penyebaran, masyarakat dihimbau menerapkan program 3M Plus dan menjaga kebersihan lingkungan serta diri sebagai langkah utama pencegahan.
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Penyakit ini banyak terjadi di daerah tropis seperti Indonesia dan dipengaruhi oleh kondisi iklim, lingkungan, serta perilaku masyarakat yang mendukung perkembangbiakan nyamuk. Kota Tangerang Selatan termasuk wilayah yang mengalami peningkatan kasus, didorong oleh mobilitas masyarakat yang tinggi, pertumbuhan permukiman, serta cuaca pancaroba. Hingga Oktober 2025, tercatat lebih dari 131 ribu kasus DBD di Indonesia dengan 544 kematian, sementara di Tangsel sendiri terdapat sekitar 500 kasus sepanjang Januari–September 2025. Pemerintah daerah melakukan langkah antisipatif seperti program Jumantik dan silent surveillance, namun masih ditemukan bahwa sebagian masyarakat terlalu mengandalkan fogging, padahal metode tersebut hanya efektif untuk membunuh nyamuk dewasa, bukan jentik.
Peningkatan kasus DBD erat kaitannya dengan faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan curah hujan. Kelembapan tinggi dan curah hujan yang meningkat mempercepat perkembangan jentik serta memperpanjang umur nyamuk, sementara perubahan suhu yang tidak stabil membuat dinamika penularan bervariasi. Kasus biasanya meningkat pada masa peralihan musim ketika genangan air banyak tersisa dan menjadi tempat ideal bagi nyamuk bertelur. Secara klinis, DBD ditandai dengan demam tinggi mendadak selama 2–7 hari, nyeri otot dan sendi, sakit kepala, ruam kulit, mual, muntah, serta gejala perdarahan ringan seperti mimisan atau gusi berdarah.
Untuk menekan angka kejadian, Kementerian Kesehatan mendorong penerapan program 3M Plus, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, dan memanfaatkan kembali barang bekas yang dapat menampung air. Langkah Plus meliputi upaya tambahan seperti memelihara ikan pemakan jentik, memasang kawat kasa, menjaga kebersihan lingkungan, hingga penggunaan larvasida pada tempat air yang sulit dibersihkan. Pencegahan pribadi juga penting, termasuk memakai kelambu, menggunakan lotion antinyamuk, memakai pakaian panjang, serta menjaga daya tahan tubuh dengan pola hidup bersih dan sehat. Upaya terpadu antara masyarakat dan pemerintah menjadi kunci untuk mengendalikan penyebaran DBD.
Penulis: Anisa Rasheeda Prabaningrum, Farmasi, Keilmuan.
Selengkapnya
Melawan Resistensi Bakteri: Tantangan Besar Kesehatan Publik Indonesia
Resistensi bakteri terhadap antibiotik telah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan publik di Indonesia. Fenomena ini terjadi ketika bakteri tidak lagi responsif terhadap antibiotik akibat perubahan genetik yang dipicu oleh penggunaan obat yang tidak tepat. Dampaknya, infeksi yang sebelumnya mudah diatasi kini menjadi lebih sulit disembuhkan, membutuhkan terapi yang lebih kompleks, mahal, dan berisiko. Kondisi ini diperburuk oleh rendahnya pemahaman masyarakat tentang penggunaan antibiotik yang rasional serta lemahnya pengawasan distribusi obat.
Berdasarkan data surveilans nasional, berbagai bakteri penyebab infeksi utama menunjukkan peningkatan resistensi yang signifikan. Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae semakin kebal terhadap antibiotik lini pertama, sementara Staphylococcus aureus resisten metisilin (MRSA) masih menjadi tantangan di fasilitas pelayanan kesehatan. Bahkan, beberapa bakteri telah menunjukkan resistensi terhadap antibiotik lini terakhir, menandakan ancaman serius menuju era pasca-antibiotik apabila tidak segera ditangani.
SelengkapnyaPenggunaan antibiotik yang tidak rasional menjadi faktor utama percepatan resistensi bakteri. Praktik pembelian antibiotik tanpa resep, penggunaan untuk penyakit akibat virus, serta ketidakpatuhan terhadap dosis dan durasi pengobatan masih sering terjadi. Selain itu, penggunaan antibiotik di sektor peternakan dan lemahnya pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan turut berkontribusi terhadap penyebaran bakteri resisten di masyarakat dan lingkungan.
Dampak resistensi antibiotik sangat luas, tidak hanya meningkatkan angka kesakitan dan kematian, tetapi juga membebani sistem kesehatan secara ekonomi. Infeksi resisten membutuhkan perawatan lebih lama dan terapi yang lebih mahal, serta mengancam keberhasilan berbagai prosedur medis modern seperti operasi besar, perawatan bayi prematur, dan kemoterapi. Tanpa antibiotik yang efektif, risiko komplikasi medis meningkat secara signifikan.
Sebagai respons, pemerintah Indonesia telah mengembangkan berbagai strategi pengendalian, termasuk Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA), penguatan surveilans nasional, serta pendekatan One Health yang melibatkan sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Namun, upaya ini memerlukan dukungan penuh dari masyarakat. Penggunaan antibiotik secara bijak dan bertanggung jawab menjadi kunci utama dalam menahan laju resistensi bakteri demi menjaga efektivitas antibiotik bagi generasi mendatang.
Penulis: Nazar Akmalullail, Farmasi, Keilmuan